sumber foto : faktualnews.co Pada tahun 2021 di Kabupaten Nganjuk tepatnya di Desa Gondang, Kecamatan Pace, digemparkan dengan p...
sumber foto : faktualnews.co
Pada tahun 2021 di Kabupaten Nganjuk tepatnya di Desa Gondang, Kecamatan Pace, digemparkan dengan penemuan benda diduga caagar budaya dibelakang rumah seorang warga, para sejarawan Nganjuk mengemukakan bahwasanya Arca tersebut merupakan sebuah arca perwujutan dewa.
Awal mulanya benda diduga caagar budaya tersebut ditemukan dibelakang rumah warga di Desa Gondang, Kecamatan Pace dengan kondisi sudah rusak bagian kepalanya hilang, sehingga sulit diidentifikasi, hanya tertinggal bentuk tubuh beserta kaki dengan posisi duduk dengan kedua lengannya,diduga tampak seperti arca ganesha, teteapi cirikhas belalainya tidak nampak, sehingga belum bisa dikatakan sebagai arca ganesha, kemudian ada pendapat muncul diduga dwarapala, tetapi melihat dari bentuknya tidak menyerupai tubuh dwarapala.
Menurut Parjo(70), benda mirip arca tersebut awalnya ditemukan berbentuk seperti tugu berbentuk kerucut memiliki ketinggian sekitar 70 sentimeter dengan tebal 50 sentimeter, pernah sesekali dipindahkan dari tempat asalnya, setelah itu benda tersebut kembali keasalnya dan Parjo(70) sering mimpi yang aneh-aneh tentang benda tersebut.
Benda tersebut kemudian dinilai sakral, sejak itu benda tersebut diberikan sajian (cok bakal). enurut Amin Fuadi, seorang Kepala Seksi Museum Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Parporabud Nganjuk, benda tersebut bukan merupakan disebut arca Ganesha. Pasalnya tidak menunjukkan adanya tonjolan di depan sebagai belalai gajah, beliau memperkirakan araca tersebut sebuah acra perwujudan dewa tetapi pembuatannya yang belum selesai serta belum bisa memastikan arca tersebut sejak zaman kerajaan apa,
“Kalau disebut arca Ganesha, saya belum berani memastikan, tapi yang hampir mirip adalah arca perwujudan dewa, karena tidak ada tanda-tanda belalai di depannya,” Ujar Amin Fuadi saat mendatangi ke lokasi temuan arca.
Tindak lanjut atas penemuan ODCB tersebut sekarang dibuatkan sebuah museum kecil letaknya di samping punden karena ODCB tersebut dianggap benda sakral oleh masyarakat, jadi agar tetap dibiarkan tempat (Insitu) untuk diamankan, dirawat. Pengelolaan museum tersebut didukung dengan benda-benda dengan corak kehidupan dimasa lalu, seperti lumpang, genuk, dll,untuk menambah kesan sejarahnya, tujuannya agar menjadi bahan edukasi untuk warga sekitas terkhusu para generasi muda untuk terus menjaga, melindungi, serta melestarikan cagar budaya yang ada, karena sejatinya Indonesia kaya dengan budaya kemudian melahirkan tradisi hingga peninggalan-peninggalan sebagai warisam yang harus terus dijaga agar tidak hilang dari peradaban.(Tita Nur Enda)

COMMENTS